Selasa, 21 Maret 2017

KONFERENSI PERS PERAYAAN NYEPI TAHUN 2017

HISTORICAL BACKGROUND NYEPI



Latar belakang sejarah Nyepi sesungguhnya berawal dari sejarah kelahiran Tahun Saka yakni tonggak atau babak baru dalam sejarah kehidupan masyarakat Hindu yang bermukim di lembah Sungai Sindu, suatu daerah yang sangat subur dan akhirnya menjadi rebutan antara beberapa suku bangsa yang bermukim di sekitarnya, antara lain Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa dan Saka. Yang lebih tragis, perebutan tersebut sampai menimbulkan peperangan silih berganti dan nyaris tidak kunjung selesai.
Pada tahun 78 Masehi, bangsa yang berkuasa di  wilayah tersebut adalah bangsa dari dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi dengan rajanya bernama Raja Kaniska I. Raja Kaniska I mengubah arah perjuangannya dari dominasi politik dan meliteristik beralih ke sistem sipil yakni membangun kebudayaan dan memperjuangkan kesejahteraan sosial. Komunikasi politik digagas dalam membangun budaya yang lebih menekankan pada toleransi antar suku bangsa yang ada, bersatu padu membangun kehidupan harmonis dan masyarakat sejahtera yang mengutamakan kepentingan bersama (sosial) atau Dharma Siddhi Yatra.
Keberhasilan melakukan perubahan esensial dalam perikehidupan masyarakat ini dijadikan tonggak sejarah bagi peringatan Tahun Baru Saka (Kalender saka secara resmi diberlakukan) bagi kehidupan manusia di jagat raya ini dalam upaya bersama-sama mewujudkan kedamaian. Sejarah penting inilah yang menginspirasi adanya peringatan Hari Raya Nyepi,  selaras dengan tujuan perubahan yang dilakukan Raja Kaniska I, termasuk Perayaan Nyepi yang diselenggarakan masyarakat Hindu di Indonesia.

HAKEKAT NYEPI
Pada hakekatnya Nyepi adalah rangkaian upacara dalam rangka peringatan menjelang datangnya Tahun Baru Saka bagi umat Hindu. Peringatan Tahun Baru membawa konsekuensi logis dilaksanakannya evaluasi kehidupan, terhadap kehidupan tahun yang lalu, sehingga jelas tergambar potret kehidupan kita tahun yang telah lewat. Kejelasan gambaran hidup tersebut, memungkinkan kita mencanangkan program/resolusi untuk kehidupan tahun yang akan datang ke arah yang lebih baik, lebih positif dan lebih kondusif, damai dan sejahtera. Inilah satu bukti masyarakat Hindu menerapkan manajemen hidup yang sesungguhnya tidak jauh dari ilmu pengetahuan tentang manajemen kehidupan manusia yang dikembangkan saat ini.
Dalam rangka evaluasi itulah umat Hindu memerlukan suasana hening, sepi, dan tenang untuk melakukan renungan/kilas balik/introspeksi/retrospeksi terhadap kehidupan kita yang telah lewat. Ibarat kita melihat bayangan bulan di tempayan yang berisi air atau pun di laut. Di dalam air yang tenang kita akan menemukan sejatinya bayangan bulan tersebut secara utuh dan sesungguhnya, sebagaimana yang diarahkan oleh pustaka suci Kakawin “Arjuna Wiwaha”  berikut ini :
“Sasi wimba haneng gatha mesi banyu/ndan asing suci nirmala mesi wulan/iwa mangkana rakwa kiteng kadadin/ring sang angambeki yoga kiteng sakala”.
Dinyatakan bahwa: hanya dalam kejernihan pikiran, kita akan mampu melihat Tuhan. Kejernihan pikiran itu dapat dicapai melalui Yoga. Demikianlah seorang pendaki spiritual sejati selalu rindu akan puncak keheningan. Ketika berada pada puncak keheningan/sunya tersebut, seseorang akan dapat merasakan kedamaian/keindahan/ spiritualitas/ketuhanan yang sukar dilukiskan dengan pengalaman indrawi.

TUJUAN NYEPI
Secara filosofis intisari dari tujuan Nyepi adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui profile kehidupan kita di tahun yang sudah lewat;
2. Setelah mengetahui bagaimana profile kehidupan kita di masa lalu, kita bisa membuat target kehidupan/resolusi kehidupan kedepannya guna mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik sesuai amanat kehidupan sebagai manusia sebagaimana disuratkan dalam ajaran Sarasamuccaya, berikut:
“Ri sakwening sarwa bhuta, iking janma wwang juga wenang gumawayaken ikang cubhacubhakarma, kuneng panentasakane ring cubhakarma juga ikang acubhakarma phalaning dadi wwang”(Sarasamuccaya sloka 2)
(Di antara semua makhluk hidup yang ada, hanya kelahiran sebagai manusialah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; tugas kita yang paling esensi adalah melebur/merubah perbuatan yang tidak baik menjadi baik/benar, inilah konsekuensi kelahiran sebagai manusia).

RANGKAIAN NYEPI
Terkait dengan Esensi Nyepi yakni melaksanakan evaluasi/kilas balik, introspeksi/retrospeksi tersebut di atas, maka rangkaian penyelenggaraan Nyepi paling tidak dilaksanakan dengan 4 tahapan kegiatan, yang secara keseluruhan saling terkait dan merupakan satu kesatuan utuh, yang mendukung prinsip utama Nyepi. Tahapan yang dimaksud adalah:

1. Melasti/Makiyis: adalah prosesi spiritual keagamaan sebagai upaya penyucian alam semesta dari segala kekotoran dan kejahatan akibat dari perputaran karma selama 1 tahun yang penuh dengan intrik, gejolak, nafsu, dan berbagai sisi negatif kemanusiaan. Penyucian ini tidak berhenti pada tataran alam semesta, tetapi juga pada diri setiap manusia. Jadi setiap orang harus menyucikan diri dan lingkungannya, karena hal tersebut akan mendukung pelaksanaan Nyepi/Hening tersebut. Prosesi ini dilaksanakan seminggu sebelum Nyepi atau maksmial 2 hari sebelum Nyepi.

2. Tawur Kesanga: yang prinsipnya adalah penyelarasan/harmonisasi dari lima unsur alam dan diri manusia (Panca Maha Bhuta). Dengan adanya penyelarasan/harmonisasi itulah maka manusia akan dibantu dengan suasana kondusif untuk melakukan renungan.  Tawur Kesanga dilaksanakan sehari sebelum Nyepi tepatnya pada bulan Mati/Tilem sasih Kesanga yang tahun 2017 ini jatuh pada tanggal 27 Maret 2017.

3. Nyepi: setelah dua tahap sebelumnya dilalui, yakni pembersihan dan harmonisasi diri dan lingkungan, maka diharapkan setiap orang akan siap untuk melakukan proses berikutnya yaitu “menyepi” itu sendiri, bagaikan kepompong yang mengisolasi diri. Kegiatan ini merupakan kegiatan utama Nyepi yang intinya merupakan: renungan/kilas balik/evaluasi/introspeksi/retrospeksi. Pada tahun 2017 ini, Hari Raya Nyepi jatuh pada tanggal 28 Maret 2017.
Secara teknis Nyepi ini dilaksanakan dengan melakukan empat disiplin kehidupan (Catur Brata Penyepian), yakni mengendalikan amarah (Amati Geni), menghindari kegiatan fisik (Amati Karya), menghindari bepergian (Amati Lelungaan) dan tidak menikmati hiburan (Amati Lelanguan). Dengan keempat dispilin tersebut maka Suksma(diri sejati manusia) akan bisa fokus dalam keheningan untuk melaksanakan renungan/kilas balik/evaluasi/introspeksi/retrospeksi dimaksud. Inilah satu ciri khas pelaksanaan perayaan tahun baru bagi umat Hindu, bukan dengan beramai-ramai, namun menyepi.

4. Ngembak Geni: merupakan tahapan akhir dari renungan/kilas balik/evaluasi/introspeksi/retrospeksi yang jatuh sehari setelah Nyepi. Pada tahun 2017 ini Ngembak Gni jatuh pada tanggal 29 Maret 2017.
Setelah menjalani kegiatan utama Nyepi diharapkan setiap orang sudah memiliki gambaran profile dari kehidupan masa lalu. Beberapa aspek kelemahan dari kehidupan masa lalu yang berdampak negatif bagi diri sendiri dan pihak lain, pada Ngembak Gni ini dikomunikasikan kepada para pihak dengan jalan memohon maaf (simakrama) dilandasi rasa tulus ikhlas.
Dengan seluruh proses tersebut, selanjutnya diharapkan setiap orang telah berkomitmen untuk menjalani Tahun Baru dengan semangat baru dan dengan berbagai resolusi yang mengarah kepada kehidupan yang lebih baik, lebih positif dan lebih kondusif lagi.

KETUA UMUM PANITIA NASIONAL
PERAYAAN NYEPI SAKA 1939 TH 2017
IRJEN POL Drs KETUT UNTUNG YOGA,SH,MM

Senin, 20 Maret 2017

Minggu, 19 Maret 2017 dilaksanakan Upacara Pelantikan Pengurus PHDI Kabupaten Tangerang di Wantilan Pura Kertajaya Tangerang Jl. KS. Tubun 108 - Tangerang

Struktur Kepengurusan PHDI Kabupaten Tangerang Masa Bhakti 2017 – 2022 :

I. Paruman Walaka :
Ketua : Nyoman Maharsa, SE
Sekretaris : Dewa Putu Satria Iswahyudi
Anggota : JM I Ketut Latra
Anggota : JM I Ketut Sipta
Anggota : JM Putu Astono Chandra Dana, SE, MM, MBA
Anggota : Aiptu I Ketut Jono
Anggota : Dr. A.A Ketut Diatmika, SE, MM
Anggota : Drs. I Wayan Sumantra
Anggota : I Wayan Kariana


II. Pengurus Harian :

Ketua  : Ir. I Gde Nyoman Soewandhi, MM
Sekretaris : Ir. I Made Arta
Wakil Sekretaris : Ir. I Made Suartha
Bendahara : I Wayan Yudi Darmawan, SE
Wakil Bendahara : I Ketut Sumerta

Bidang Pendidikan & Keagamaan      
Ketua Bidang  : I Made Biasa, S.Ag, M.Phil
Wakil Ketua Bidang : Surono, S.Pd.H

Bidang Organisasi & Keumatan
Ketua Bidang : I Made Sulandra.
Wakil Ketua Bidang : I Wayan Swastawan Aditya, SH

Bidang Seni Budaya
Ketua Bidang  : Wy Sutana.                          
Wakil Ketua Bidang:  Desy Astono Chandra Dana

Bidang Sosial Kemasyarakatan
Ketua Bidang : I Made Purnawan, AMd
Wakil Ketua Bidang : I Made Ubud.

Bidang Sarana dan Prasarana Keagamaan        
Ketua Bidang : Ir. I Nyoman Merdana .                  
Wakil Ketua Bidang  : I Kadek Uliatara, SE.


SELAMAT ATAS 
PELANTIKAN PENGURUS PHDI KABUPATEN TANGERANG

Sabtu, 18 Maret 2017

Hari ini, 18 Maret 2017 Panitia Nyepi Provinsi Banten yang dimotori oleh WHDI provinsi Banten melaksanakan kegiatan Bakti sosial di Pantai Salira Serang Banten. Dilaksanakan pula acara Ngaturang Pekelem ke Tengahing Segara. Berikut adalah foto dokumentasi kegiatan tersebut :

Ngaturang pekelem ring telenging segara
Baksos ring pantai salira serang Banten suksma

Rabu, 15 Maret 2017

OM Suastiastu.

Tadi pagi saya diminta memberikan Dharma Wacana di Pura Raditya Dharma Cibinong dengan tema "Bagaimana Dana Punia dapat Meningkatkan Penghasilan?"

Pada kesempatan itu saya mengutip sebuah sloka yang sangat luar biasa yang baru beberapa bulan ini saya temukan yang terkait dengan dana punia. Dalam Atharwa Weda VIII.15.6 disebutkan bahwa:

Berdermalah untuk tujuan kebaikan bersama, maka Hyang Widhi akan memberikan penghasilan yang berlimpah kepada kita

Sloka ini mengajak kita untuk berderma alias berdana punia untuk tujuan kebaikan bersama. Dengan berdana punia maka dari dalam diri kita terpancar energi keberlimpahan. Ketika kita memancarkan energi keberlimpahan maka kita menarik keberlimpahan ke dalam hidup kita.

Sebaliknya, ketika kita memancarkan energi negatif (perasaan kekurangan), maka kita akan menarik berbagai kekurangan terjadi dalam hidup kita.

Sloka tersebut di atas ternyata sudah banyak dipraktekkan oleh umat selain Hindu dan terbukti nyata. Contohnya seorang Warren Buffet yang pernah mendonasikan sekitar 90% kekayaannya kepada yayasan sosial milik Bill Gates. Akibat donasi yang lumayan besar ini bukannya membuat Warren Buffet bangkrut, tetapi malahan dalam beberapa waktu kemudian kekayaan Warren Buffet malah makin bertambah dari jumlah semula.

Perusahaan-perusahaan besar juga menerapkan sloka ini dengan membentuk divisi CSR sebagai bagian yang bertugas berbagi kepada masyarakat. Pemberian (dana punia) kepada masyarakat ini diyakini bisa mendongkrak omzet perusahaan karena dengan memberi justru dapat menarik lebih banyak keberlimpahan.

Sebagai Sekretaris Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Pengurus Harian PHDI Pusat saya berkewajiban menyebarluaskan sloka yang luar biasa ini karena melalui dana punia malah sesorang dapat meningkatkan penghasilannya. Kenapa bisa demikian?

Jika kita sudah berkomitmen berdana 2.5% dari penghasilan per bulan, maka ketika Anda berniat untuk menaikkan jumlah dana punia yang akan dibayarkan, maka hal itu berarti penghasilan Anda juga meningkat.

Semoga hari demi hari dana punia Anda semakin meningkat, sehingga penghasilan Anda pun terus meningkat. Dengan demikian, kehidupan Anda dalam bidang ekonomi dan kesejahteraan semakin meningkat.

Astungkara🙏

Salam berkelimpahan bahagia


I Nyoman Widia

Minggu, 12 Maret 2017

SHARING SESSION

Bersama : Bapak Wayan Supadno


   Negara Indonesia yang dikenal sebagai Negara agraris masih mengalami problematika dalam bidang pertanian. penurunan jumlah petani , penyempitan lahan , kurangnya inovasi dan kurangnya hilirisasi serta kebijakan impor yang belum berpihak kepada petani lokal menyebabkan bidang pertanian di Indonesia semakin tertinggal dibanding bidang yang lainnya. 

    Pura Kertajaya Tangerang dalam pergerakannya ingin membuka wawasan yang luas bagi Umat nya di Tangerang akhirnya mengadakan Sharing Session tentang pertanian. Narasumber yang diundang adalah seorang pakar dan praktisi di bidang pertanian yang sangat sukses hingga sekarang yaitu Bapak Wayan Supadmo 

    Beliau menjelaskan mengapa Indonesia harus sukses dalam bidang pertanian , pondasi untuk sukses , langkah - langkah untuk sukses dan peluang - peluang dalam bidang pertanian yang saat ini dapat di lakukan.

Acara diawali dengan sambutan ketua Banjar Pura Kertajaya Tangerang kemudian makan bersama oleh para pengurus Banjar dan Yayasan Vidya Kertajaya , sharing session ini dihadiri oleh puluhan umat Hindu di Tangerang yang antusias ingin mengerti lebih dalam tentang potensi - potensi apa saja yang bisa di dapatkan dari bidang pertanian.












Rabu, 08 Maret 2017

Dalam upaya melakukan pembinaan Umat Hindu, di wilayah pinggiran Banjar Tangerang dibentuk sebuah kegiatan yang bernama "Sevana Mantra". Kegiatan ini dibentuk dengan maksud dan tujuan agar dapat dijadikan sebagai media Umat Hindu, khususnya di daerah pinggiran untuk memperkuat sradha, bhakti, dan *spiritualitas*nya.
Berkaca dari Kerajaan Hindu Majapahit, yg akhirnya runtuh akibat digerogoti oleh para Misionaris berkedok pedagang dari wilayah pesisir/ pinggiran, maka perlu upaya konkreet untuk membuat pagar sradha yang kuat  bagi umat Hindu.

Sevana Mantra, yg secara harfiah bermakna pelayanan doa,dikemas dengan berbagai kegiatan yg bersifat penerapan, pemahaman & pendalaman ajaran Hindu secara benar berdasar Sastra Veda. Diawali dengan Puja Trisandya*dan *Kramaning Sembah,yg diiringi dengan Kidung Suci Jawa & Bali, dilanjutkan dengan Japa/ Kirtanam*dan dilengkapi dengan *Dharma Wacana*dan ditutup dengan *Sima Krama/ bermaaf2an. Kegiatan ini merupakan puncak akumulasi dari kurang / tidak adanya pembinaan umat secara kontinyu. Selama ini pembinaan keumatan hanya mengandalkan setiap pertemuan tempek & sembahyang Purnama Tilem, yg kondisinyapun belum maksimal (untuk saya katakan tidak ada).
Kegiatan ini sudah berjalan 4 tahun dengan metode pelaksanaanya dilakukan secara bergilir dari rumah ke rumah pada setiap hari Sabtu Malam Minggu, terkecuali pada hari Sabtu tersebut bertepatan dengan Rahinan Suci, kami tetap mengarahkan agar umat bersembahyang di Pura.

Japa/ Kirtanam dalam Sevana Mantra,merupakan disiplin spiritual yg didalamnya berisikan *Gayatri Puja, Ganesha Puja, Siva Puja*dan doa2: *penuntun hidup, permohonan kesehatan, keselamatan& kebahgiaan rumah tangga, memiliki harapan agar umat,khususnya di daerah pinggiran semakin mantab menjadi umat Hindu, sehingga tidak mudah dikonversi oleh keyakinan dengan iming2 apapun.

Mari kita maknai bahwa semua masalah di Hindu adalh tanggung jawab kita semua,tanpa harus menyalahkan siapa2, baik PHDI, Banjar maupun Diejen Hindu. Mari kita semua berbenah dengan semangat untuk memajukan Hindu, dan kita awali dari diri kita, dari yg terkecil dan dari saat ini. Semoga Hyang Widhi memberikan wara nugrahaNya.




Foto2 tsb diatas : Pelaksanaan Sevana Mantra pd hari Sabtu tgl 4 Maret yg dihadiri Pembimas Hindu Ketua Banjar Tangerang & Ketua Banjar Tigaraksa.

Sumber : Pak Surono

Minggu, 05 Maret 2017

Rapat Pleno Panitia Nyepi Propinsi Banten

Rapat Pleno Panitia Nyepi Tahun Baru Caka 1939 Propinsi Banten dilaksanakan pada hari Minggu , 5 Maret 2017 di Wantilan Parahyangan Jagatguru BSD Tangerang Selatan menyepakati beberapa hal utama diantaranya :


  • ·         Tema Perayaan Nyepi Tahun Baru Caka 1939 Provinsi Banten, sejalan dengan tema perayaan Nyepi Nasional Indonesia yaitu “ Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa Dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI “
  • ·         Upacara Melasti akan dilaksanakan pada Hari Minggu, tanggal 26 Maret 2017, pukul 10.00 sampai selesai di Pantai Tanjung Pasir Tangerang Banten.
  • ·         Upacara Tawur Kesanga akan dilaksanakan pada Hari Senin, tanggal 27 Maret 2017, pukul 10.00 sampai selesai di Jaba sisi Pura Eka Wira Ananta Serang Banten.
  • ·         Dharma Santi Propinsi Banten akan dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 9 April 2017 di Auditorium Kampus STAN, Tangerang Selatan.
  • ·         Dharma Tula dengan nara sumber Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda akan dilaksanakan pada hari Senin, 24 April 2017 di Wantilan Parahyangan Jagatguru BSD, Tangerang Selatan
  • ·         Bakti Sosial Donor darah dan Pengobatan Gratis akan dilaksanakan pada hari Minggu, 12 Maret 2017 pukul 10.00 sampai selesai di Jaba Sisi Pura Kertajaya Tangerang. Bakti sosial pembagian sembako, pengobatan gratis dan Penghijauan akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 Maret 2017 di Pantai Tanjung Pasir Tangerang dan Pantai Salira Serang Banten.
  •  

 
Teknis Kegiatan : Upacara Melasti
  • ·         Upacara Melasti dibawah koordinasi panitia lokal dari Banjar Tangerang dan Banjar Tigaraksa, baik berupa persiapan Upakara dan Upacara, perlengkapan, anggaran biaya serta kegiatan teknis lainnya.
  • ·         Kerja bakti akan dilaksanakan pada hari Minggu, 19 Maret 2017 yang melibatkan Banjar Tangerang dan Banjar Tigaraksa serta panitia propinsi.
  • ·         Ngayah Umum akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 Maret 2017 yang melibatkan Banjar Tangerang, Banjar Tigaraksa, Banjar Rempoa dan Banjar Tangerang Selatan. Dilanjutkan kegiatan mekemit oleh Banjar Tanggerang.
  • ·         Puncak Upacara Melasti secara garis besar :
  • -       Pukul 07.00 WIB : Nyoroang Banten
  • -       Pukul 09.00 WIB : Seluruh Ida Bethara sampun rawuh di tempat Melasti.
  • -       Pukul 10.00 WIB : Ida Pedanda Mepuja, melaksanakan upacara Melasti dengan rangkaiannya, persembahyangan bersama, nunas wangsupada, dharma wacana dan nunas tirta ke tengahing segara.
  • -       Pukul : 13.00 Selesai dan Mewali ke Payogan soang-soang



Kesepakatan Upacara Melasti :
  • -       Setiap Banjar menggunakan Jempana dalam mengiringi Ida Bethara Lunga Melasti, dengan kelengkapan antara lain, tombak, tedung, kober, lelontek dan baleganjur.
  • -       Setiap Banjar hanya menggunakan bus ukuran kecil saja (Tidak diperkenankan menggunakan bus besar), serta Umat pemedek yang lain menggunakan minibus.
  • -       TIDAK disediakan konsumsi untuk umat oleh panitia. Panitia menyediakan konsumsi hanya untuk Pinandita dan Pandita. Konsumsi menjadi kebijakan masing2 banjar.
  •   


Teknis Kegiatan : Upacara Tawur Agung Kesanga
  • ·         Upacara Tawur Agung Kesanga dibawah koordinasi panitia lokal dari Banjar Serang dan Banjar Ciledug, baik berupa persiapan Upakara dan Upacara, perlengkapan, anggaran biaya serta kegiatan teknis lainnya.
  • ·         Ngayah Umum akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 Maret 2017 yang melibatkan Banjar Serang dan Banjar Ciledug.
  • ·         Puncak Upacara Tawur Aguang Kesanga secara garis besar :

  • -       Pukul 07.00 WIB : Nyoroang Banten
  • -       Pukul 08.00 WIB : Seluruh Ida Bethara sampun rawuh di tempat Tawur Agung Kesanga.
  • -       Pukul 09.30 WIB : Ida Pedanda Mepuja, melaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga dengan rangkaiannya, persembahyangan bersama, dharma wacana dan nunas wangsupada.
  • -       Pukul : 12.00 Nyarub Caru dan Selesai
  • -       Pukul : 12.30 Parade Ogoh-ogoh dibawah koordinasi IPHB Provinsi Banten, yang melibatkan Sisingaan dari Cilegon, Gunungan, Sunda Wiwitan dan Ogoh-ogoh dari setiap Banjar. Setiap peserta lomba ogoh-ogoh diberikan waktu Pentas selamat 10 Menit.   



Kesepakatan Upacara Tawur Agung Kesanga :
  • -       TIDAK disediakan konsumsi untuk umat oleh panitia. Panitia menyediakan konsumsi hanya untuk Pinandita dan Pandita serta tamu undangan. Konsumsi menjadi kebijakan masing2 banjar.