Selasa, 25 April 2017

Dharma wacana oleh drs. Yuliono, penyuluh hindu Kediri, pada acara dharma santi Majapahid Nusantara, di Pura Bekasi.




Om Swastiastu,

Rahajeng siang ,perkenankan kami atas nama Panitia One Night in Bali :

1. Ucapah syukur kami kehadapan Ida Hyang Widhi.

2. Menghaturkan terima kasih dan penghargaan yg setinggi tingginya atas support, dukungan dan partisipasi yg luar biasa dari tokoh tokoh Hindu Nasional kita, Bapak Ketut Untung Yoga, Bapak Gina Samudra, Bapak Kadek Sarjana dan seluruh komponen Lembaga PHDI, Banjar, Pemuda dan umat Hindu Sejabodetabek shg acara astungkare dapat berjalan dg baik dan lancar.

3. Ucapan terima kasih kami kpd seluruh pengisi acara ONIB2 Drama Klasik Banyuning, Bondres Dwi Mekar, Celekontong Mas, Cedil dkk, Anggis N Team, Wyn Balawan, Sekhe Gong Ibu2 , Penari, Joged Bumbung, Mbak Dian dan Susan MC, AA Raka Sidan,dll.

4. Ucapan terima kasih kpd Management dan Team Hotel Allium dibawah koordinasi GM Bpk.Hendra Kurniawan.

5. Permintaan maaf kami tentunya masih banyak kekurangan dalam menyambut kehadiran bpk/ibu, shg kami ada ruang utk perbaikan di event berikutnya.

6. Terakhir kami selalu mohon dukungan dana utk terwujudnya cita cita mulia kami /kita utk memiliki Pintu Masuk berupa Candi Bentar di Pura Kertajaya Tangerang yg akan kami mulai di Juli 2017.

Salam Hormat,
IMade Sulandra

Ketua Panitia ONIB-2.

Foto-foto Dokumentasi On Night in Bali
Bapak untung yoga
Ketua parisada provinsi Banten
Sambutan walikota Tangerang yg di wakili oleh ASDA1 bapak kos jarkasi
Panitia bersama para tokoh nasional

Minggu, 23 April 2017

Presiden Ingatkan Perbedaan Bukan Penghalang Persatuan

Presiden Joko Widodo menghadiri Dharma Santi Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939. Perayaan tersebut digelar di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu 22 April 2017.

Pada acara tersebut, Presiden Joko Widodo mengawali sambutannya dengan menyampaikan ucapan selamat hari raya bagi para umat Hindu di Indonesia.

Dharma Santi Nasional
"Semoga perayaan Nyepi yang waktunya berdekatan dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan bisa memberikan keheningan jiwa, rasa Shanti atau kedamaian, dan juga Jagadhita atau kesejahteraan bagi kita semua," ujarnya.

Kepala Negara menyadari bahwa Hari Raya Nyepi memiliki makna mendalam bagi umat Hindu. Melalui momen Nyepi tersebut, Umat Hindu hendak membersihkan diri dan memohon pada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

"Dengan menjalankan Catur Bratha Penyepian, umat Hindu menyambut tahun baru Saka dengan semangat yang baru, dengan jiwa yang damai, yang lebih harmonis sesuai dengan nilai-nilai Tri Hita Karana," tuturnya.

Tri Hita Karana merupakan falsafah hidup yang dipegang oleh umat Hindu. Falsafah itu mengajarkan umat untuk melestarikan keanekaragaman budaya dan lingkungan sektiarnya.

"Kita telah banyak mengambil dari alam untuk dimanfaatkan menjadi sumber kehidupan kita. Sudah saatnya kita juga membayarnya kembali dengan cara menjaga dan melestarikan alam. Hanya dengan cara itu kita semua akan mendapatkan kehidupan yang harmonis," Presiden menjelaskan.

Keharmonisan diyakini Presiden merupakan harapan dan impian semua orang. Apalagi di negara Indonesia, yang memiliki banyak sekali perbedaan suku, bahasa, dan juga keyakinan, semangat untuk menjaga keharmonisan tentu harus terus dipelihara.

"Perbedaan latar belakang suku, latar belakang agama, dan latar belakang budaya bukanlah penghalang bagi kita untuk bersatu. Bukan pula penghalang bagi kita untuk hidup dalam keharmonisan dan membangun solidaritas sosial yang kokoh," ucapnya.

Perbedaan yang ada itu tak mesti diseragamkan, namun tak pula ditiadakan. Perbedaan itu semestinya diikat oleh tali-tali persaudaraan, tali-tali kebersamaan, dan tali-tali persatuan Indonesia. Oleh karenanya, Indonesia patut bersyukur memiliki Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya.

"Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan pemersatu kita semua. Kita juga mempunyai Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi pilar kebangsaan yang kokoh untuk menjaga dan merawat Indonesia yang majemuk ini," ia menegaskan.

Presiden Joko Widodo sekaligus meyakini, dengan terus berpegang teguh kepada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, segenap bangsa Indonesia akan tetap bersatu dan maju menuju kesejahteraan bersama-sama.

"Saya yakin dengan berpegang pada Pancasila, dengan menjunjung semangat Bhinneka Tunggal Ika, kita akan tetap bersatu. Dengan bersatu, kita akan maju bersama, sejahtera bersama untuk menyongsong masa depan bangsa yang gemilang," kata Presiden.

Oratorium Mulat Sarira
Di penghujung acara, Presiden menyaksikan Oratorium Mulat Sarira oleh Sanggar LKB Saraswati yang menggambarkan keberagaman budaya di Indonesia.

Tampak hadir mendampingi Presiden, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono.

Jakarta, 22 April 2017
Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden


Bey Machmudin
Nyepi, Kerja, dan Kemuliaan Hidup

Om Swastiastu.
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Sejahtera untuk kita sekalian,
Namo Buddayo.

Yang terhormat Presiden RI, Bpk Ir. Joko Widodo
Ketua DPR RI dan anggota DPR RI asal Bali
Ketua DPD RI serta anggota perwakilan Bali
Menteri Agama Republik Indonesia dan Menteri lainnya
Pejabat Tertinggi dan Tinggi Negara
Panglima TNI RI
Ketua Dharna Adyaksa,
Sabha Walak Parisada Hindu Dharma Pusat
Ketua Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Pusat,
Para Pimpinan Majelis Agama,
Para Pinisepuh Umat,
Para Undangan dan Umat Sedharma yang berbahagia.

Pada tanggal 28 Maret 2017 yang lalu, umat Hindu di seluruh pelosok nusantara baru saja melaksanakan hari raya Nyepi, sebagai penanda awal tahun baru saka 1939. Sebelumnya, dilaksanakan upacara melasti, yaitu upacara penyucian pratima ke sumber-sumber mata air atau laut.

Sehari sebelum Nyepi, umat Hindu secara nasional mengadakan upacara Tawur [ruwatan bumi] yang dipusatkan di depan candi Prambanan, Jateng diikuti dengan hal yang sama di masing-masing Provinsi lain. Setelah hari raya Nyepi, umat Hindu menyelenggarakan acara Dharmasanti sebagaimana dilaksanakan malam ini, sebuah acara formal untuk saling maafmemaafkan serta memberikan dukungan satu sama lain.

Bapak Presiden yang saya muliakan dan hadirin yang saya hormati,

Pada kesempatan dharma wacana ini, ijinkan saya menyampaikan petikan dialog yang inspiratif, antara Judistira dengan Yaksa [tentu bukan Jaksa atau Jaksa Agung]. Dialog terjadi, ketika Judistira melihat empat saudaranya tewas di tepi danau dalam hutan ganas Nandaka. Tempat panca pandawa menjalani hukuman akibat kalah berjudi.

Ketika Judistira melihat empat saudaranya tewas, ia bergumam dengan lirih: ”Ya Tuhan, kenapa empat saudaraku mengalami nasib seperti ini, tewas di tepi danau. Adakah hal salah telah dilakukannya ? Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari langit, yang tidak lain berasal dari Yaksa. “Wahai anakku Judistira, apa yang menimpa adik-adikmu, akibat perbuatannya sendiri.

Mereka dengan lancangnya mengambil air milikku tanpa terlebih dahulu meminta ijinkku. Siapapun tidak berhak melakukan tindakan seperti itu. Terlebih lagi sebagai Ksatrya, seharusnya lebih paham mengenai peraturan, tentu lebih tidak patut melakukan tindakan itu, mengambil sesuatu yang bukan haknya, menikmati sesuatu bukan karena hasil kerjanya.

Oleh karena itu, engkau jangan terlalu bersedih, itu adalah pahala dari karma nya sendiri, hukum karma-phala sedang berjalan. Duh paduka Yaksa, maafkanlah kesalahan dan dosa-dosa saudara hamba. Kesalahan yang dilakukannya, bukan semata-mata kesalahan mereka, melainkan hambalah yang memintanya untuk mencari air yang akan kami berikan kepada istri hamba, Drupadi.

Hamba saudara berlima tidak mungkin dipisahkan. Walau hamba berbeda dalam ciri fisik, watak, dan ibu yang melahirkan, kami tetap bersaudara dalam perbedaan [bina ika tunggal ika]. Bima, tinggi besar, kulitnya rada hitam, tempramental, sementara Arjuna tampan, kulitnya halus, semampai, dan lembut. Sedangkan adik hamba Nakula dan Sahadewa si kembar, bawaannya lemah-lembut, seniman, pintar, dan santun. Perbedaan itu adalah keindahan yang harus hamba pelihara Paduka.

Oleh sebab itu paduka Yaksa, sekali lagi kami mohon agar adik-adik hamba dapat dihidupan kembali, agar kami berlima dapat mendarma baktikan hidup kami untuk negeri yang kami amat cintai. Setelah mendengar motivasi permohonan memelas dari Judistira, maka Yaksa berkata: ”baiklah Judistira, Aku akan hidupkan saudara-saudaramu, dengan syarat kamu bisa menjawab tiga plus satu pertanyaanku’. Judistira pun sepakat “monggo paduka”, Judistira siaaap mengikuti UNBK.

Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S. 
Pertanyaan pertama Yaksa: “apakah yang lebih tinggi dari langit ? Mendengar pertanyaan itu, Judistira melongok ke atas melihat langit biru, dan mejawab: maaf paduka, yang lebih tinggi dari langit, tiada lain adalah akasa, ayah, purusa, lingga. Yaksa berkata: benar Judistira. Ayah, harus dihormati, ayah-akasa-purusa-lingga posisinya menjadi pandu bagi anggota lainnya.

Kamu ada, juga karena benih purusa, lingga, dan ayah. Akan tetapi, perlu engkau ketahui, predikat ayah yang mulia itu, baru akan kamu pantas sandang, jika engkau bertanggung jawab, tidak abai terhadap keluargamu. Yaksa kemudian mengajukan pertanyaan kedua: “apakah yang lebih berat dari bumi” ? Sambil berfikir, Judistira melihat ke bawah ke tanah yang dipijaknya, sembari menjawab: menurut hemat hamba, yang lebih berat dari bumi tiada lain ibu, pertiwi, predana, yoni. Bagus Judistira ! Ibu, pertiwi, predana, dan yoni adalah lambang kesuburan. Bibit yang baik, tidak akan mungkin tumbuh menjadi kehidupan tanpa ditampung oleh wadah yang subur.

Satu hal yang juga perlu engkau ketahui Judistira, pertiwi selalu akan memberikan apa yang engkau tanam. Jikalau engkau menanam jagung, maka engkau akan memetik jagung, tidak mungkin ketela. Jika engkau berbuat baik, maka engkau akan memperoleh kebaikan, sebaliknya jika engkau menanam keburukan maka cepat atau lambat engkau akan memetiknya.

Oleh karena itu wahai Judistira, rawatlah ibu pertiwi ini dengan sebaik-baiknya, Engkau bisa menghentikan penjarahan dan eksploitasi alam yang sewenang-wenang. Alam mengandung percikan jiwa Tuhan, berupa energi [bayu] dan suara [sabda], alam juga bisa merintih sedih seperti halnya manusia. Orang Jawa, Madura, Bali, Batak, Minang, Dayak, Ambon, Papua, dan lainnya harus bersama-sama menjaga dan merawat ibu-pertiwi, vayam raster jagrayama purohitah [setiap orang berkewajiban melindungi bangsa dan negaranya, Yayurveda IX.23] agar dia tetap cantik-lestari, tidak bopengbopeng, di manapun engkau berada dan mencari kehidupan.

Yaksa melanjutkan petuahnya: “Ketahuilah Judistira, tiada energi apapun akan tercipta jika kedua unsur tadi [akasa dan pertiwi] tidak bersatu. Angin, hujan, petir, dan kamu sendiri ada karena penyatuan akasa dan pertiwi, karena bersatunya ayah dan ibu, lingga dengan yoni.

Dapat dibayangkan jika ekskutif dan legislatif tidak harmoni dan tidak bersatu, maka tidak akan ada dinamika pembangunan yang full power. Oleh karena itu Judistira, jangan pernah meremehkan satu di antara kedua unsur tadi. Keduanya harus diberi posisi yang equal dan dihormati.

Dua pertanyaan sudah dijawab dengan baik oleh Judistira, kemudian Yaksa melanjutkan pertanyaan ketiga: “apakah yang lebih banyak dari pasir di laut atau rumput di ladang” ? Waduh, soal UNBK semakin sulit gumam Judistira. Setelah pranayama, menarik nafas dalam-dalam melalui hidung, menahannya sebentar, dan mengeluarkannya secara pelan-pelan melalui mulut, Judistira kemudian menjawab: “keinginan” paduka Yaksa.

Betul Judistira, keinginan bergerak lebih cepat dari bilangan angka. Ketika kita menyatakan satu, keinginan langsung menjadi dua, tiga, dan seterusnya. Sudah punya mobil satu, ingin punya dua, tiga. Sudah punya rumah satu ingin punya rumah dua, tiga, dan seterusnya. Ayahmu dulu, sudah punya Dewi Kunti, masih juga pingin punya Dewi Madri, untung jaman itu belum terkenal Dewi........[stop press]. Keinginan yang menggelora dan liar harus dikendalikan Judistira.

Saat Nyepi, ketika melaksanakan catur berata dengan tidak bersenang-senang [amati lelanguan], tidak bepergian [amati lelungaan], tidak menyalakan api [amati gni], dan tidak bekerja [amati karya], itu merupakan usaha manusia mengendalikan diri dari pengaruh keinginan [ahangkara] dalam wujud rĂ£ga [nafsu], lobha [tamak], kroda [marah], mada [mabuk], irsya [iri hati], dan moho [bingung]. Itulah sebabnya, saat Nyepi umat Hindu harus melakukan kontemplasi terhadap dirinya, untuk senantiasa berusaha mengekang pengaruh keinginan [ahangkara] liar ke tingkat minimal.

Dengan kekuatan budhi dan wiweka-nya, manusia menimbang betapa mengumbar nafsu, menjadi manusia tamak, iri hati, dengki, pemarah dan melakukan tindakan kekerasan [krurakarma] kepada semua makhluk, terlebih dilakukan kepada manusia, tidak akan pernah menginspirasi manusia mencapai kemuliaan hidup.

Bapak Presiden dan hadirin yang saya muliakan,
Setelah Judistira menjawab ketiga pertanyaan sesei pertama, Yaksa kemudian bersabda: Wahai Judistira putra Kunti, engkau telah mampu menjawab ketiga pertanyaanku dengan baik.

Oleh karena itu, aku akan memberimu satu poucer untuk menghidupkan satu dari empat saudaramu yang tewas. Silahkah pilih mana di antara keempat saudaramu yang akan engkau hidupkan kembali. Dengan sedih Judistira memohon, ‘paduka Yaksa, jika memungkinkan, hamba mohon keempat saudara hamba dihidupkan kembali, bukan hanya satu.

Bagaimana mungkin hamba dan salah satu di antara mereka saja yang hidup, sementara tiga lainnya tewas. Yaksa dengan berwibawa dan bergeming menjawab, “tidak bisa Judistira”, silahkan pilih satu di antara saudaramu untuk dihidupkan kembali. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Judistira menjawab dengan perlahan.

Baik paduka Yaksa, jika demikian halnya, maka saya mohon yang dihidupkan salah satu di antara Nakula atau Sahadewa. Begitu mendengar jawaban Judistira, giliran Yaksa yang terkejut. Apa ? Nakula atau Sahadewa ? Bukankah engkau memerlukan Bima, yang badannya tinggi-besar-perkasa-ahli menggunakan senjata gada. Apa tidak lebih baik engkau menghidupkan Arjuna, si tampan, ahli strategi, ahli perang dan juga ahli dalam menggunakan busur panah ? Bagaimana logikamu Judistira ?

Paduka yang mulia, hamba ini putra Dewi Kunti sudah hidup seorang, seharusnya putra Dewi Madri juga hidup satu orang. Jika hamba menggunkan poucer ini untuk menghidupkan saudara kandung hamba Bima atau Arjuna, maka hamba telah berlaku tidak adil, hanya memikirkan diri sendiri, memikirkan kerabat seibu sendiri, tanpa pernah memikirkan saudara lain.

Jika ibu Madri mendengar dan tahu, betapa sedihnya melihat kenyataan ini. Betapa remuk hati seorang ibu Madri, jika keturunannya musnah, sementara keturunan yang berasal dari ibu lainnya hidup. Oleh karena itu Paduka Yaksa, Keadilan tidak ditentukan oleh seberapa banyak produk perundang-undangan serta peraturan yang dibuat dan telah ada, tetapi keadilan itu akan tegak jika pemimpinnya mau bertindak adil dan memiliki good will untuk mewujudkan keadilan.

Mohon ampun paduka yang mulia, sampurasun...hamba tidak mencoba menggurui paduka, hamba hanya menjelaskan pikiran hamba yang sederhana ini, kata Judistira. Keadilan tidak ditentukan oleh jumlah, ciri fisik, watak, Bahasa, ataupun daerah. Yang lebih banyak jumlahnya, memang seharusnya dapat lebih banyak, tetapi juga tidak boleh mengabaikan yang kecil. Hitam-kriting-besar ciri fisiknya tidak boleh diabaikan karena yang putih-bersih-dan semampai. Yang bersih kelihatan bersih, karena ada yang hitam. Yang besar kelihatan besar, karena ada yang kecil. Barat-Tengah-Timur, utara-selatan semuanya itu harus dilihat sebagai bagian-bagian yang membuat negeri ini indah [Bhineka Tunggal Ika].

Itulah yang ada dalam pikiran hamba yang bodoh ini, maafkan hamba jika paduka tidak berkenan. Bapak Presiden dan Hadirin yang saya muliakan, Begitu mendengar jawaban Judistira, Yaksa tersenyum puas dan bersabda: Engkau lulus dengan predikat Summa Cumlaude, predikat kelulusan tertinggi, dan berhak atas penghargaan serta poucer tambahan. Lagi pula engkau pantas menjadi Raja yang berkeadilan.

Oleh karena itu, aku akan hidupkan keempat saudaraku yang tewas, agar kamu bisa mendarma baktikan hidupmu untuk negeri tercinta ini, sekali lagi Aku tegaskan “untuk mendharma bhaktikan sisa hidupmu untuk negeri ini, sekalipun engkau sudah tidak menjadi Raja lagi”.

Sebagai tambahan, Aku akan memberimu empat pesan penting, yaitu pertama: agar engkau dan saudaramu tetap dekat dengan rakyatmu, hiduplah selalu di hati rakyat, perilakumu jangan pernah berubah karena kedudukan.

Jika engkau hidup rakus, tamak, dan egois dengan mengumbar kemarahan, memaki-maki orang lain, itu sama artinya engkau memarahi dan menyakiti dirinya sendiri anakku Judistira, itu bertentangan dengan ajaran tat twam asi.

Pada waktu, hari, dan bulan yang baik lakukan Japa, meditasi, semadi, dan puasa, sebagai momentum memuliakan diri dan orang lain sesama anak bangsa dengan cara lebih peka terhadap kemiskinan yang masih menimpa sebagian anak negeri ini.

Pesan tambahanku yang kedua, sebagai manusia yang hendak mencapai kemuliaan hidup, engkau harus semakin menyadari betapa pendidikan menjadi modal untuk mencapai kemuliaan hidup sebagaimana tersirat dalam sloka vidya dhanam sarvadhana pradhanam [pengetahuan adalah kekayaan tertinggi]. Ketiga, Manusia Hindu juga diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi hidup damai [shanti] dalam suasana kehidupan yang multikultural.

Bapak Presiden yang amat saya hormati dan banggakan,

Pesan tambahan terakhir yang ingin Aku sampaikan kepadamu Judistira, setelah melaksanakan hening satu hari dan setelah jiwa dan raga beristirahat, maka jiwa memiliki energi baru untuk memulai hidup baru yang lebih berharga bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Salah satu cara memuliakan hidupmu adalah dengan bekerja lebih keras dengan menganggap kerja itu sendiri bagian dari yadnya, bagian dari jalan menuju Tuhan. “Tuhan (Prajapati) melakukan kerja untuk dapat menciptakan dunia, yang bergerak berdasarkan hukum-hukum yang berlaku atas ciptaan-Nya itu yang disebut Rta (Rg Veda I.22:18; Rg Veda X. 190:1).

Dalam Atharva Veda (III.24:5); Yajur Veda (20:7) Hindu mengajarkan umatnya bekerja keras dengan penuh konsentrasi dan disiplin (Yoga Sutra, I.15). Oleh karena itu, engkau harus bekerja dengan penuh konsentrasi dan disiplin sebagaimana halnya Tuhan telah memberikan Kamadhuk melalui yadnya-Nya.

Dengan landasan bahwa kerja adalah yadnya, maka tidak ada alasan yang bagi setiap manusia untuk tidak melaksanakan pekerjaan dengan penuh rasa tanggung jawab, kerja-kerja-dan kerja. Dalam Yajur Weda.19.30 disebutkan sebagai berikut.

Pratena diksam apnoti Diksaya apnoti daksinam Daksina sraddham apnoti Sraddhaya satyam apyate [Yajur Weda.19.30]

Artinya: Melalui pengabdian kita memperoleh kesucian, Dengan kesucian kita mendapat kemuliaan Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan Dan dengan kehormatan kita memperoleh kebenaran

Menempatkan kerja sebagai yadnya [tanpa pamrih] juga memungkinkan memperoleh kesucian, hasil yang suci tak ternoda, energi yang mengalir dalam uang yang diperoleh dengan jalan suci akan memberikan vibrasi positif bagi seluruh anggota keluarga yang menikmatinya.

Seluruh keluarga akan tenang hidupnya, dan dalam kondisi demikian, keluarga itu akan memperoleh kemuliaan dan kehormatan sebagai keluarga sukhinah bawantu [memperoleh kemuliaan, kehormatan, dan dipercaya].

Oleh karena itu, mari kita kerja-kerja-kerja bersama Guru Wisesa [pemerintah], sebagai bagian dari catur guru bhakti, agar kita semua memperoleh kehormatan dan kebenaran.

Demikianlah beberapa hal yang dapat saya sampaikan kepada bapak Presiden Republik Indonesia dan para hadirin, disertai permohonan maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada. Terima kasih.

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om. Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salom, Namo Buddayo.

Mabes TNI Cilangkap, Jakarta, 22 April 2017 Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S.


Naskah disampaikan pada acara Dharmasanti Nasional Hari Raya Nyepi Tahun baru Saka 1939 di Mabes TNI Cilangkap Jakarta, Sabtu 22 April 2017.
Sambutan Presiden RI pada Acara Dharma Santi Nasional

Jakarta, 22 April 2017

Om Swastyastu
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Sejahtera Bagi Kita Semua,

Pada pagi yang cerah ini, saya ingin menyampaikan rasa angayubagya karena bisa ber-simakrama dengan umat Hindu dalam acara Dharma Santi untuk merayakan hari raya Nyepi dan meyambut tahun baru Saka 1939.

Teriring salam saya kepada seluruh umat Hindu, di seluruh pelosok tanah air, disertai dengan ucapan selamat hari raya Nyepi, dan juga selamat hari raya Galungan dan Kuningan.
Semoga, perayaan Nyepi yang waktunya berdekatan dengan hari raya Galungan dan Kuningan bisa memberikan keheningan jiwa, rasa Shanti atau kedamaian dan juga Jagadhita atau kesejahteraan bagi kita semua.

Hadirin yang saya hormati,
Hari raya Nyepi memiliki makna yang  sangat penting bagi umat Hindu.
Karena dalam momen Nyepi itulah, Umat Hindu menjalankan catur beratha penyepian sebagai bagian dari upaya pembersihan diri, bhuwana alit dan juga alam semesta atau bhuwana agung.

Dengan menjalankan catur beratha penyepian, umat Hindu menyambut tahun baru Saka dengan semangat yang baru dengan jiwa  yang  damai, yang lebih harmonis sesuai dengan nilai-nilai Tri Hita Karana.

Dalam Tri Hita Karana, umat Hindu diajarkan bahwa Srada Bhakti pada Tuhan harus juga diwujudkan dengan menjaga keharmonisan dengan sesama serta menjaga hubungan harmonis dengan alam yang semuanya diciptakan oleh Brahman, Penguasa Jagad Raya.
Umat Hindu juga diminta untuk selalu memegang teguh ajaran Wasudewa Kutum Bhakam, kita semua bersaudara, yang menekankan arti penting persaudaraan yang sejati karena kita semua berasal dari sumber yang sama yakni dari Tuhan yang Maha Esa.

Tri Hita Karana juga mengajarkan kepada umat Hindu bahwa Srada bhakti pada Tuhan juga harus bisa dimanifestakan dalam tindakan nyata menjaga dan melestarikan alam di sekitar kita. 

Kita telah banyak mengambil dari alam… untuk  dimanfaatkan menjadi sumber kehidupan kita. Dan sudah saatnya kita juga membayarnya kembali dengan cara menjaga dan melestarikan alam. Hanya dengan cara itu kita semua akan mendapatkan kehidupan yang harmonis, Shanti dan Jagadhita.

Hadirin yang saya muliakan,
Membawa kembali kesadaran baru tentang makna   menjaga keharmonisan serta persaudaraan sejati ini sangat penting dalam kehidupan kita, dalam berbangsa dan bernegara. 

Sebagai bangsa yang majemuk, kita memiliki  714 suku, bahkan data BPS menyebutkan sekitar 1.340 suku, kita juga mempunyai beragam ras, beraneka ragam bahasa daerah dan juga berbeda-beda agama.


Perbedaan latar belakang suku…latar belakang agama… latar belakang budaya… bukanlah penghalang bagi kita untuk bersatu…Dan bukan pula penghalang bagi kita untuk hidup dalam keharmonisan, saling menghormati, saling membantu dan membangun solidaritas sosial yang kokoh.

Semua perbedaan itu, tidak harus diseragamkan … tidak juga harus ditiadakan…atau bahkan dilenyapkan.

Semua perbedaan dan keragaman itu justru harus diikat oleh tali-tali persaudaraan, tali-tali kebersamaan dan tali-tali persatuan Indonesia.

Dalam mengelola keragaman, mengelola kemajemukan kita bersyukur…memiliki Pancasila… kita juga bersyukur memiliki Sesanti, Bhinneka Tunggal Ika.

Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan pemersatu kita semua.

Kita juga mempunyai Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi pilar kebangsaan yang kokoh… untuk menjaga dan merawat Indonesia yang majemuk ini, pilar kebangsaan untuk mewujudkan Indonesia yang bersatu, harmonis dan damai.

Saya yakin dengan berpegang pada Pancasila dengan menjungjung semangat Bhinneka tunggal Ika, kita akan tetap bersatu.
Dengan bersatu, kita akan maju bersama,… sejahtera bersama… untuk menyongsong masa depan bangsa yang gemilang.
Sekali lagi, selamat Hari raya Nyepi Tahun Saka 1939. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi kita semua.

Terima kasih,
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Jakarta, 22 April 2017
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
JOKO WIDODO

Dharma Santi Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 Masyarakat Korpri TNI POLRI , Mabes TNI Cilangkap 22 April 2017

Nyepi, saka 1939, dharma santi, mabes TNI, Dharma Santi Nasional, Tahun Baru Caka

Kamis, 20 April 2017

PRESIDEN JOKOWI AKAN HADIRI DHARMASANTI NASIONAL HARI RAYA NYEPI

Jakarta,20 April 2017

Presiden Joko Widodo menurut rencana akan menghadiri pelaksanaan Dharmasanti (silaturahmi) Nasional hari Raya Nyepi tahun Saka 1939 pada hari Sabtu, 22 April 2017 di GOR Mabes TNI Cilangkap.

Ketua Umum Panitia Nasional Perayaan Nyepi Saka 1939 tahun 2017, Irjen Pol  Drs. I Ketut Untung Yoga menjelaskan bahwa dalam Dharmasanti Nasional esensinya sebagai momentum silaturahmi antar umat Hindu dan antar umat beragama.
Kehadiran Presiden dan stakeholders lainnya sangat diharapkan umat Hindu dalam menguatkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ini tentunya diharapkan sesuai dengan tema Perayaan Nyepi tahun ini yaitu "Jadikan Catur Brata Penyepian memperkuat toleransi kebhinekaan berbangsa dan bernegara demi keutuhan NKRI".

Dalam Dharmasanti yang akan dihadiri 3.000 umat Hindu  itu dimohonkan Sambutan Presiden Joko Widodo dan dharma wacana rohani oleh Prof.Dr. Ida Bagus Yudha Triguna.

Kehadiran Presiden dan Ibu Iriana Joko Widodo serta undangan lainnya akan disambut dengan tarian Sri Kamelawi dan hiburan kesenian dalam bentuk oratorium dalam lakon "Mulat Sarira" (Introspeksi diri) pimpinan sanggar I Gusti Ngurah Kompiang  Raka.

Selama Dharmasanti juga akan dimeriahkan dengan Ibu-Ibu WHDI Banten  yang akan menyanyikan Indonesia Raya.


Selain itu juga akan menampilkan pembacaan sloka kitab suci Weda oleh dua juara se DKI Jaya yaitu Pande Nyoman Lokasandhiyasa dan Made Nararya Radya Kumara. *

Sabtu, 15 April 2017

Acara Dharmayatra para Pinandita dan umat Hindu  Banten di Parahyangan Bhuwana Raksati, Sodong Tiga Raksa.


Parahyangan Bhuwana Raksati, Sodong Tiga Raksa
Jl.Vihara 007 Sodong Tigaraksa 
Kabupaten Tangerang

NYEPI CAKA 1939