Kamis, 21 Juli 2016


MATSARYA [iri hati, dengki, sentimen] adalah jenis kegelapan pikiran yang paling gelap diantara sad ripu [enam kegelapan pikiran]. Artinya kalau dalam pikiran kita muncul iri hati, dengki atau sentimen, itu pertanda kegelapan pikiran kita masih sangat gelap pekat. Apalagi kalau sudah terkena "penyakit SMS" [susah melihat seseorang senang, senang melihat seseorang susah].

Bukti bahwa matsarya adalah pertanda kekotoran pikiran masih sangat pekat bisa kita bayangkan sendiri. Jika kita berhadapan dengan orang yang iri hati, dengki atau sentimen, kita akan dibuat serba salah. Jika kita lebih rendah dia akan menghina, jika kita sederajat dia akan bersaing, jika kita lebih tinggi dia akan iri hati. Semua tindakan atau posisi kita menjadi serba salah. Semuanya dilihat salah, sehingga satu-satunya hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah diam.

Jika kita tidak mau kehidupan maupun kematian yang gelap, matsarya [iri hati, dengki atau sentimen] harus sesegera mungkin kita lenyapkan dari dalam pikiran kita. Dengan kita melaksanakan semuanya empat metode sadhana ini.

[1] Metode pertama adalah memahami iri hati, dengki atau sentimen itu sebagai sejenis energi. Energi ini tergantung kita, bisa memakainya atau tidak. Misalnya laksana api. Di tangan orang yang pintar memasak, api itu berguna membuat beras menjadi nasi, sayuran menjadi capcay. Tapi di tangan anak-anak yang tidak tahu bagaimana menggunakan api, disana api bisa berbahaya dan membuat rumah jadi terbakar.

Orang yang iri hati, dengki atau sentimen itu di dalam dirinya energi-nya tinggi atau bahkan berlebihan tapi dia tidak punya media dan tempat untuk menyalurkan dan mengekspresikannya. Sekarang tergantung bagaimana kita menggunakan iri hati, dengki atau sentimen itu sebagai energi di waktu dan tempat yang tepat. Salurkanlah energi ini, gunakan energi berlebihan ini untuk hal yang baik.

Misalnya iri hati pada tetangga yang kaya. Jangan sekali-sekali memfokuskan diri pada tetangga tersebut, melainkan segera belajar yang keras, bekerja yang keras, biar kita bisa sama kaya-nya dengan dia. Iri hati pada rekan kerja yang sukses. Jangan sekali-sekali memfokuskan diri pada rekan kerja itu, melainkan segera belajar yang keras, bekerja yang keras, kelak waktu yang pasti akan membawa kita sama suksesnya dengan dia, dsb-nya. Lebih terang dan mulia lagi jika kita bisa menggunakan energi berlebihan ini ke arah yang terang.  Misalnya untuk melakukan kerja sosial, membantu orang lain, ngayah di pura, dsb-nya. Itu cara menggunakan energi matsarya agar positif, biar dia tersalurkan gunakan ke arah yang baik, terang dan berguna.

[2] Metode kedua adalah dengan belajar menerima diri kita sendiri dan garis kehidupan kita sendiri seperti apa adanya. Dengan rasa berkecukupan, rasa syukur dan rasa terimakasih yang mendalam. Karena setiap bentuk penolakan kita terhadap orang lain berakar dari penolakan kita terhadap diri sendiri.

Jika kita dapat menerima diri kita sendiri dan garis kehidupan kita sendiri seperti apa adanya, dengan rasa berkecukupan, rasa syukur dan rasa terimakasih yang mendalam, kita akan sangat mudah untuk menerima keadaan orang lain seperti apapun bentuknya.

[3] Metode ketiga adalah dengan melakukan perenungan. Bahwa kita tidak pernah tahu apa kerja keras orang lain dan kita tidak pernah tahu secara lengkap apa-apa saja yang dilakukan oleh orang lain dalam hidupnya.

Tetangga yang kaya, dia pasti bekerja keras untuk mencapai hal itu. Disaat kita bersenang-senang nonton sinetron, main playstation, dsb-nya, dia bekerja keras bangun pagi, banting tulang dan hemat menabung. Rekan kerja yang sukses, dia pasti bekerja keras untuk mencapai hal itu. Disaat kita bersenang-senang nongkrong, jalan-jalan, dsb-nya, dia bekerja keras membaca buku, ikut seminar dan lembur. Sehingga kita bisa menjadi tahu diri dan berhenti melakukan penghakiman-penghakiman. Kita sadar bahwa semua pencapaian perlu pengorbanan dan tidak datang begitu saja dengan mudah.

[4] Metode ke-empat adalah adalah belajar untuk melakukan Mudita-Citta, yaitu kita bahagia melihat orang lain bahagia. Ini merupakan jalan yang sangat terang bercahaya.

Rahajeng rahina numpuk telu, Purnama Sasih Kasa, Anggarakasih Kulantir, lan Kajeng Kliwon. Dumogi stata shanti lan rahayu sareng sami. (ANAK AGUNG ALIT WIRADHARMA).

Sinar Banten. Com - Peserta halal bihalal tokoh agama se Tangsel dlm tema budaya memperkaya agama dan agama memperindah agama. Hadir pak Ngurah Purnama Jaya, Ketua PHDI Tangsel dan tokoh agama se Tangsel. Narasumber dari tokoh Hindu tampil Ir. Gede Astaya.


Sabtu, 16 Juli 2016

 

Upacara piodalan atau Pujawali ke-32 Pura Mertasari Rempoa telah berlangsung saat Purnama Sasih Sadha tgl 19 Juni yang lalu. Direktur Urusan Agama Hindu  Bimas Hindu Kementerian Agama RI yang diwakili oleh  Putu Sudjana menyampaikan Dharma Wacana di hadapan ratusan umat yang hadir dalam gelombang pertama. Persembahyangan ini dipimpin oleh Ida Pedanda Putra Sideman. Dilanjutkan dengan persembahyangan tahap kedua yang juga diikuti ratusan umat  dengan pedharma wacana I Putu Gita, Pgs Pembimas Hindu Banten. Pujawali ini dimeriahkan oleh sanggar tari Bali Padmasari Bekasi khusus penari dari Jepang, sanggar tari Bali Puspita dari BSD, tari janger dan kecak mahasiswa STAN dan BMKG, sanggar Mertasari dan jegog sanggar seni Sukarya. Juga diisi dengan tari topeng sidakarya, tari baris dan tari rejang dewa dari banjar Mertasari Rempoa.