Upacara Yang Mencerdaskan

Semua bangsa di dunia dapat dipastikan mengenal dan pernah melaksanakan upacara sesuai dengan versi dan tradisi masing-masing. Demikian pula halnya dengan bangsa Indonesia dalam mengenang hari-hari bersejarah bangsanya selalu diperingati melalui suatu upacara, terkhusus peringatan hari kemerdekaan yang jatuh setiap tahun pada tanggal 17 Agustus.

Berabad-abad sebelum bangsa lain mengenal upacara, pustaka suci Weda sudah menyuratkan suatu kerangka dasar pembangun peradaban manusia dalam skema:

Konfigurasi tersebut menyiratkan makna bahwa pohon peradaban manusia akan tumbuh dan berkembang secara berjenjang dan integratif melalui tahapan proses upacara sebagai akarnya, etika/susila sebagai batangnya, dan tatwa/filsafat sebagai daunnya.

Secara etimologi upacara berarti “cara mendekatkan”. Dengan cara apa manusia mendekatkan dirinya dalam upaya membangun peradaban? Hanya dengan satu cara dan satu-satunya cara yaitu “berkorban”. Berkorban apapun termasuk jiwa dan raga dengan tulus dan ikhlas tanpa terikat dengan hasilnya (yadnya). Tujuan hidup manusia sesuai ajaran Hindu adalah bahagia di dunia menuju kebahagiaan abadi (moksah). Bahagia bersumber pada keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam (Tri Hita Karana).

Melalui yadnya seharusnya keselarasan dapat terwujud.

Manusia dinyatakan selaras dengan Tuhan akan tercermin dalam sikap hidupnya yang penuh welas asih terhadap seluruh makhluk, tidak terlalu gembira di kala suka dan tidak terlalu bersedih di kala duka, tidak terikat dengan hasil dari perbuatannya dan memahami semua yang terjadi adalah merupakan rantai karma yang harus dilakoni menuju kesempurnaan (kecerdasan spiritual).

Manusia dinyatakan selaras dengan sesama akan tercermin dalam sikap hidupnya yang penuh toleransi, mampu membangun hubungan timbal-balik yang selaras dengan sesama, saling asah-asih-asuh dalam hidup bermasyarakat (kecerdasan emosional).

Manusia dinyatakan selaras dengan alam akan tercermin dalam sikap hidupnya yang peduli dengan lingkungan alam, karena menyadari bahwa alam merupakan rumah besar bersama yang telah menyediakan segala kebutuhan bagi makhluk yang hidup di dalamnya (patram, palem, puspam, gandem, dan toyem), oleh karenanya manusia harus merawat dan menjaga keselarasan ekosistemnya (kecerdasan intelektual).

Upacara berkala yang dilaksanakan dari waktu ke waktu dalam berbagai skala dimaksudkan sebagai pengingat manusia agar selalu terjaga dari kealfaan. Walaupun manusia dianugerahi tiga kemampuan (Tri pramana), dari perspektif mikrokosmos, kemampuan fungsi indera manusia sangat terbatas, dari perspektif makrokosmos, ruang dan waktu merupakan pembatas abadi yang tidak pernah bisa ditaklukkan oleh kemampuan manusia, oleh karena itu sebagai manusia, siapapun dia, pasti pernah mengalami penyakit generatif yang disebut “LUPA”.

Melalui upacara, manusia dari waktu ke waktu selalu diingatkan dan dibangkitkan kesadarannya agar selalu ingat dengan sumber dan tujuan hidupnya. Andaikan bangsa Indonesia yang sudah merdeka 68 tahun silam abai dengan upacara peringatan kemerdekaannya, bisa jadi rakyatnya melupakan falsafah bangsanya (Pancasila), UUD 1945, bendera, dan lagu kebangsaannya. Kalau hal ini terjadi bisa dibayangkan seperti apa peradaban bangsa itu jadinya?

Dalam pelaksanaan upacara seharusnya para manggala upacara dapat menjabarkan dan menjelaskan segala simbol yang dipakai dan tata-cara upacaranya kepada seluruh umat, terutama kepada umat yang ada pada fasa Brahmacari (0-25 th) supaya pemahaman dan srada umat meningkat dari waktu ke waktu. Meningkatnya pemahaman dan srada umat merupakan pelita/suar untuk memahami dan mengembangkan etika/susila dan tatwa/filsafat kehidupan dalam membangun peradabannya.

Upacara sebagai media pengingat seyogyanya tidak selalu dinilai dari besar atau meriahnya, tetapi lebih pada manfaat dan pemahamannya. Upacara besar dan meriah apabila tidak dilandasi kesadaran dan pemahaman yang benar akan menjadi beban dan dapat menjerumuskan umat ke dalam kegelapan. Sebaliknya, upacara kecil yang sederhana apabila dilandasi kesadaran sathyam, sivam, dan sundaram, serta padat makna dan pemahaman akan dapat mencerahkan/mencerdaskan umat.

Kalau dengan upacara kecil dan sederhana bisa, kenapa harus besar? Bukankah Hindu mengajarkan kesederhanaan? Dalam perjalanan waktu, hanya kecerdasan akal-budilah yang akan menuntun manusia menentukan pilihan bebasnya, dan pilihannya pula yang akan menentukan hasil akhir atau nasibnya.

Semoga kebenaran datang dari segala penjuru.


Cilegon, 25 Juli 2013

Anggota Paruman Walaka
PHDI Provinsi Banten

 
I Ketut Siarta
Previous
Next Post »

Terimakasih Sudah Meluangkan Waktu Sejenak Untuk Berkunjung ke SINAR BANTEN , Semoga Bisa Bermanfaat Untuk Umat Semua Dimanapun Berada .

www.hindubanten.com ConversionConversion EmoticonEmoticon