Konsep Tri Hita Karana pun Dilabrak



Konsep Tri Hita Karana pun Dilabrak

Tak hanya aturan hukum yang diabaikan, konsep Tri Hita Karana yang diagungkan masyarakat Bali pun sudah dilabrak. Para penguasa sudah menjadikan ekonomi sebagai panglima. Semuanya diukur dengan pendapatan dan uang. Sikap kapitalis seperti itulah yang mempercepat kehancuran Bali.

MASUKNYA kapitalis ke Bali sangat potensial mendatangkan permasalahan besar. Sebab, saat ini tidak satu pun sendi di dunia ini termasuk agama yang tidak terpengaruh oleh kapitalisme. Menyikapi hal ini, masyarakat Bali termasuk pemimpin-pemimpin Bali harus memiliki kemampuan untuk menyeleksi investasi yang cocok untuk dikembangkan di Bali. Pemimpin Bali tidak bisa lagi bersikap permisif terhadap investor demi keuntungan materi yang bersifat sesaat. Hal itu dilontarkan Ketua Program Studi Magister Ilmu Agama dan Budaya Unhi Denpasar Dr. I Wayan Budi Utama, M.Si. pada diskusi terbatas Bali Post dengan tema ''Investor Kuasai Bali dan Pengaruhnya terhadap Budaya Bali'', Selasa (30/7) lalu.

Menurut Budi Utama, para leluhur Bali sejatinya telah mengingatkan bahwa umat Hindu di Bali memerlukan uang atau harta karena manusia tidak mungkin hidup tanpa itu. Namun, bukan berarti uang harus dijadikan sebagai panglima yang dikumpulkan dengan menghalalkan segala macam cara. Pengumpulan harta itu harus tetap sesuai dengan konsepsi Hindu; dharma, artha dan kama. ''Jadi semuanya wajib dilandasi dengan dharma,'' tegasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar Dr. I Wayan Winaja, M.Si. mengatakan masyarakat Bali memang tidak boleh alergi dengan investasi. Namun untuk kondisi Bali saat ini, dia sepakat investasi yang masuk ke Bali harus betul-betul dipilih dan dipilah. Dalam sektor pariwisata, misalnya, investasi yang masuk ke Bali harus sejalan dengan semangat Perda No. 3 Tahun 1991 tentang Pariwisata Budaya.

Apabila perkembangan pariwisata Bali ini tetap dibiarkan bergerak liar dan tumbuh tanpa kendali, Winaja mengkhawatirkan daya dukung Bali akan habis. Ditegaskan, daya dukung Bali yang makin terkikis ini sangat berpengaruh terhadap potensi budaya karena budaya Bali tidak akan berkembang. Sebagai contoh, budaya agraris akan mati pelan-pelan karena pariwisata yang dikembangkan saat ini sangat rakus lahan dan sumber daya alam lainnya seperti air dan listrik.

Hal senada juga dilontarkan pakar tata ruang Bali Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si. Dosen Fakultas Teknik Universitas Udayana ini mengatakan sudah seharusnya manusia Bali kembali mengimplementasikan konsepsi Tri Hita Karana secara konsekuen alias tidak menjadi slogan semata. Dikatakan, konsepsi ini memberikan tuntunan yang sungguh luar biasa bagaimana manusia Bali bisa hidup dalam ruang dan waktu secara harmonis. ''Sayangnya, kita sudah melupakan hal itu. Demi mengejar kesejahteraan ekonomi yang bersifat nikmat sesaat kita melabrak semua ajaran Tri Hita Karana yang sebenarnya diwariskan oleh para leluhur kita untuk menyelamatkan manusia Bali dari generasi ke generasi,'' katanya menyayangkan.

Di era kesejagatan ini, katanya, perkembangan teknologi yang bergerak begitu cepat sangat potensial mengubah manusia menjadi sangat fragmatis dan uang pun akhirnya menjadi panglima dalam kehidupan. Karena motivasinya hanya untuk mengejar uang, maka apa pun menjadi halal dilakukan termasuk dengan cara merusak alam lingkungan. Akibatnya, kehidupan manusia yang semestinya selalu berhubungan harmonis dengan alam, sesama dan Tuhan mulai terdegradasi. Daerah gunung dan bukit yang sejatinya merupakan hulu Bali dirusak, laut dieksploitasi habis-habisan dengan dalih untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berorientasi ekonomi semata. ''Bali memang sudah dieksploitasi habis-habisan. Sebelum semuanya benar-benar rusak dan hancur, sudah saatnya kita berpikir bagaimana menyelamatkan anak-cucu kita ke depan. Kita harus berani menolak dengan tegas segala jenis investasi yang potensial merusak Bali dan tidak boleh lagi bersikap serba boleh dengan investor. Jangan terlena dengan janji-janji manis investor yang biasanya hanya manis di awal tetapi terasa begitu pahit di belakang. Jangan sampai konsepsi Tri Hita Karana yang sudah kita yakini turun-temurun akan menyelamatkan manusia Bali berubah jadi Tri Hita Merana,'' katanya mengingatkan. (ian/nik)


Previous
Next Post »

Terimakasih Sudah Meluangkan Waktu Sejenak Untuk Berkunjung ke SINAR BANTEN , Semoga Bisa Bermanfaat Untuk Umat Semua Dimanapun Berada .

www.hindubanten.com ConversionConversion EmoticonEmoticon