SISI LAIN PEMAKNAAN HARI SUCI MAHA SIVA RATRI

Hari Maha Siva Ratri jika didasarkan atas pengelompokannya termasuk kategori 'Hari Suci', bukan hari raya, maka kecenderungannya lebih bersifat peningkatan spiritual, kontemplasi dan perenungan diri, berbeda dengan hari2 lain seperti Galungan,  Kuningan, & Saraswati, dimana aspek Ritualnya/ Upacara & upakaranya begitu tetlihat sangat menonjol.
Hari yang sangat memiliki nilai yg sangat special, karena berdasarkan perhitungan merupakan hari tergelap di antara hari dalam satu tahun.  Sehingga pada saat hari ini,  jika mendasarkan diri pada Sastra Suci Hindu, maka Umat Hindu memiliki kewajiban untuk melaksanakan Sadhana atau disiplin spiritual,  yaitu antara lain: Mauna/ mona'= tidak bebicara, Upavasa'= tidak makan /minum,  dan Jagra'= tidak tidur. Ketiga disiplin spiritual tersebut pada hakekatnya adalah untuk membukakan Tri netra atau Cudamani/ mata ke3 pada diri manusia, sehingga diharapkan kita memiliki kesadaran spiritual yang tinggi terhadap Sang Pemilik Kehidupan.

Pelaksanaan praktek Hari Raya Maha Siva Ratri,secara tradisional banyak diinspirasi oleh Kisah Lubdhaka, dimana seorang pembunuh, & perampok yang kejam kemudian pada akhir hidupnya dapat mencapai moksa. Salahkah hal yang demikian?? 
Kalau kita bicara dalam konteks & konsep Agama Hindu tentu tidaklah salah,  karena sepanjang apa yang dilaksanakan bermuara kepada kebaikan, kebahagiaan dan keharmonisan tidaklah salah. Terlebih agama Hindu juga bukan Agama dogmatis seperti Agama lain yang menekankan pelaksanaan ajaran agamanya harus mengikuti "Nabi Sentral"nya,  dan apabila tidak mereka harus siap di berikan predikat "Menyimpang" atau "aliran sesat".
Makanya dalam praktek beragama Hindu, tidaklah ada pakem yg bersifat mengikat. Jangan pernah bermimpi kita mendapatkan suatu rumusan pelaksaan praktek ritual Hindu.  Umat Hindu diberikan Vidya= pengetahuan,  Vijnana= kecerdasan dan Viveka=kebijaksanaa agar dapat mempergunakanya dalam berbagai aspek kehidupan termasuk di dalamnya berhubungan dengan Tuhan. Toh Tuhan tidaklah bodoh,yang hanya mampu menerima hanya satu bahasa saja,  dan satu cara beribadah saja. Itulah yang disebut dengan Adhikara.

Kembali ke Hari Maha Siva Ratri pada hari ini, pesan moral yang diharapkan adalah bagaimana kita pada saat ini dapat tersadar dari rimba kegelapan, dan dari kebangkitan kesadaran tersebut mari kita warnai secara dominan hidup ini dengan kontent spiritual untuk mewujud nyatakan kehidupan yang lebih baik Lokasamgraha., baik di lingkungan umat Hindu maupun dalam kehidupan masyarakat luas.
Tentunya nilai2 dalam kisah Lubdhaka tadi pun juga dapat dijadikan media untuk peningkatan kualitas diri kita, yaitu dengan Upavasa, mauna dan jagra, karena dalam Sastra Suci Hindu Niti Sastra memberikan pesan secara tersurat dan tersirat:

*Udyoge nasti daridyam
Japato nasti pathakam
Mauneca kalao nasti
Nasti jagharato bhayam*

Yg artinya: Tidak ada keterbelakangan bagi mereka yang tekun berusaha, tidak ada mala petaka bagi mereka yang tekun memuja Tuhan, tidak ada pertengkaran bagi mereka yang mampu mengendalikan ucapan,  dan tidak ada bahaya bagi mereka yang senantiasa jagra.

Selamat melaksanakan Brata & Puja Siva Ratri, semoga Sang Hyang Siva menganugerahkan kesidhian kepada kita. 
Kel. Surono
Previous
Next Post »

Terimakasih Sudah Meluangkan Waktu Sejenak Untuk Berkunjung ke SINAR BANTEN , Semoga Bisa Bermanfaat Untuk Umat Semua Dimanapun Berada .

www.hindubanten.com ConversionConversion EmoticonEmoticon